
Originally Posted by
huda
Keluhan saya sama dengan TS....saya dulu penggemar bus ini karena slogan bintang lima dan kecepatannya, tapi sekarang untuk naik bus ini harus dengan 100 pertimbangan sebelum membeli tiketnya. Bagaimana tidak, sejak tahun 2004 naik bus ini selalu kecewa. Sebagai penumpang saya sering mencoba komplain ke kru tapi apa daya dari raut muka mereka juga menyiratkan bahwa mereka sebetulnya juga mau protes ke management tapi tidak bisa diungkapkan karena sejumlah hal sampai pemecatan, sehingga semua penumpang dan saya cuma bisa diam pasrah. Ironisnya, Lorena tidak sedikit pun menurunkan harga tiketnya atas buruknya pelayanan.
Kenapa Lorena selalu tidak tepat waktu? itu karena kebijakan putar kepala yang diterapkan hampir di semua jurusan. Bayangkan saja sampai Karina SE baru sampai sore hari di Malang, tiga jam berikutnya sudah harus berangkat ke Jakarta padahal kondisi bus sering sakit-sakitan. Kru bus Bojonegoro pernah mengatakan kalau mereka baru sampai maghrib tadi di garasi Tajur sudah harus berangkat lagi setelah Isya, itu karena bus untuk Bojonegoro cuma dua, alhasil bus berhasil mati mesin tiga kali sampai akhirnya mati total di Pemalang sampai satu jam lebih dan melanjutkan perjalanan tanpa AC. Padahal sebetulnya Lorena bisa lebih tertib lagi dalam mengatur perjalanan karena memiliki jumlah armada yang banyak dan memadai.
Kenapa Lorena tidak bisa memangkas waktu perjalanan? itu karena Lorena terlalu banyak cheker sepanjang perjalanan dan agen yang mesti didatangi. Rumitnya, kalau ada kemacetan di Pantura Lorena tidak akan bisa ambil jalur alternatif karena memiliki agen di sepanjang jalan yang mesti didatangi untuk keperluan paket, pemindahan/naik-turun penumpang ataupun cheker. Sebab itulah kalau naik bus ini dan kena macet maka siap-siaplah menelpon kerabat ataupun bos anda untuk menjelaskan alasan keterlambatan.
Ini sebenarnya sangat disayangkan, Lorena-Karina yang sedang mengejar target ISO-nya malah menerima komplain dari kanan-kiri. Saya juga gak habis pikir apa yang melatarbelakangi PO ini bisa mendapat sekian penghargaan belakangan ini sementara kualitas pelayanan terus turun dan komplain penumpang kian menggunung. Kalau cuma bagus di atas kertas semua juga bisa, tapi bisnis transportasi adalah soal kenyataan di perjalanan. Ada baiknya para dewan juri penghargaan itu naik bus Lorena sekali waktu di waktu sembarang tanpa memberitahu pengurus Lorena terlebih dahulu baru melakukan penilaian. Saya pernah berbicara dengan salah satu pengurus Lorena di LB, kata dia Lorena selalu mengadakan pelatihan bagaimana melayani penumpang, menyetir yang baik dan sebagainya, tapi pertanyaannya mendasarnya adalah bagaimana semua pelatihan itu mau diterapkan bila Lorena-Karina masih memberlakukan sistem yang tidak beraturan seperti sekarang ini, apakah mereka tidak bertanya kepada kru betapa capek mereka menerima keluhan penumpang dan bekerja terus menerus tanpa henti.
Kritik itu tanda peduli.....kalau Lorena mau, ia bisa menjadi yang terbaik........analisa saya, cukup 6 bulan bagi Lorena untuk bisa memulihkan citranya kembali dan merebut konsumen lebih dari sekarang.....kalau mau.......