Nama Sunda mulai dipakai oleh raja Purnawarman di tahun 397 untuk menyebut ibukota Kerajaan Tarumanagara yang dibangunnya. Untuk mengembalikan pamor Tarumanagara yang semakin menurun, pada tahun 670, Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13, memutuskan mengubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda setelah itu peristiwa ini dijadikan alas oleh Kerajaan Galuh untuk mengasingkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. di posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima keinginan raja Galuh. Alhasil kawasan Tarumanagara dipecah kedalam dua kerajaan, yakni Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai pembatasnya.


Suku Sunda (Urang Sunda) ialah golongan etnis yang berasal dari wilayah barat pulau Jawa, Indonesia, dengan sebutan Tatar Pasundan yang meliputi wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, Lampung dan sebagian wilayah barat Jawa Tengah (Banyumasan). Urang Sunda tinggal di berbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten juga Jawa Barat jadi sentra utamanya. (via salamadian)


Jati diri yang menyatukan suku Sunda yaitu bahasa dan budaya. penduduk Sunda terkenal memiliki sikaf optimistis, ramah, sopan, riang juga bersahaja. Orang Portugis mencatat di dalam Suma Oriental jika. Orang sunda bersifat jujur juga pemberani. penduduk sunda juga merupakan yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa asing. Sang Hyang Surawisesa atau Raja Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan hubungan diplomatik dengan Bangsa lain di abad ke-15 dengan bangsa Portugis di Malaka. Hasil dari diplomasinya dicatat dalam Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal. Beberapa tokoh dari suku Sunda juga menjabat Menteri dan pernah menjadi wakil Presiden pada kabinet Republik Indonesia.


Selain prestasi dalam bidang perpolitikan khususnya di awal masa kemerdekaan Indonesia dan ekonomi, prestasi yang bisa dikatakan membanggakan ialah di bidang budaya yaitu banyaknya penyanyi dan aktris dari etnis Sunda, yang memiliki prestasi di tingkat nasional, maupun internasional.
Menurut Rouffaer (1905: 16) menyatakan bahwa kata Sunda bermuasal dari akar kata sund atau kata suddha dalam bahasa Sansekerta yang mempunyai arti bersinar, terang, berkilau, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa, 1949: 289). dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali juga terdapat kata Sunda, yang memiliki pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186; Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter, 1928: 219).


Suku Sunda berkeyakinan jika memiliki etos atau karakter Kasundaan, sebagai jalan menuju keutamaan hidup.
Karakter orang Sunda tersebut yaitu cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), wanter (berani) dan pinter( cerdas). Karakter tersebut telah dijalankan oleh suku Sunda sejak zaman Kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Pajajaran hingga masa kini


Kepercayaan.

Umumnya penduduk Sunda beragama Islam (sekitar 99,8%). Ada juga sebagian kecil orang Sunda yang beragama Kristen (sekitar 0,1%) dan Sunda Wiwitan (sekitar 0,1%). Agama Sunda Wiwitan tetap bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat Sunda di Baduy lebak Banten.

Bahasa.


Dalam dialog sehari-hari, etnis Sunda banyak memakai bahasa Sunda. Namun sekarang telah banyak masyarakat Sunda utamanya yang hidup di perkotaan tidak lagi memakai bahasa Sunda dalam percakapan] Seperti yang terjadi di pusat keramaian kota Bandung, Bogor, dan Tangerang, dimana banyak masyarakat yang tak lagi memakai bahasa Sunda.


Ada beberapa logat dalam bahasa Sunda, para ahli bahasa biasanya membedakan enam logat berbeda. dialek-dialek ini adalah:.


- Dialek Barat (Bahasa Sunda Banten).
- Dialek Utara.
- Dialek Selatan (Priangan).
- Dialek Tengah Timur.
- Dialek Timur Laut (Bahasa Sunda Cirebon).
- Dialek Tenggara.


Dialek Barat dituturkan di daerah Banten dan Lampung. nada bicara Utara mencakup daerah Sunda utara diantaranya kota Bogor dan beberapa daerah Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang meliputi kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di Kabupaten Majalengka dan Indramayu. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Cirebon dan Kuningan, juga di beberapa kecamatan di Kabupaten Brebes dan Tegal, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis, juga di beberapa kecamatan di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah.