huda
04-01-2011, 11:30
Ketika melihat gambar pada link ini http://megapolitan.kompas.com/read/2011/04/01/08302326/Pola.KRL.Berubah.1.Juli.2011 saya tertegun. Bagaimana tidak, KRL ternyata tertarik menggunakan headlamp varian marcopolo, yang bahkan, sudah mulai akan ditinggalkan oleh pengguna aslinya, yaitu armada bus. Baik corak ataupun modelnya sudah terbilang lama, dan kurang populer bila dibandingkan dengan versi New Marcopolo-nya. Terbesit pertanyaan apakah ini sengaja didesain seperti ini ataukah hanya sebuah ketidak-sengajaan.
Tak mengherankan bila desain kereta nasional secara umum (terutama KRL) tidak digarap secara serius, para pengelolanya pun tergolong tidak ambil pusing, toh semua penumpang kereta tak akan menolak untuk diberikan model interior/eksterior seperti apapun. Di beberapa kereta api jenis Eksekutif yang pernah saya gunakan, fasilitasnya malah kurang mumpuni dibanding harganya, sekalipun itu kereta api kelas argo.
Berbeda dengan para penumpang bus, mereka mulai kritis dengan apa yang ditawarkan tiap perusahaan. para operator pun kian kompetitif, yang berimbas pada kreatifitas karoseri dan hadirnya mesin-mesin baru dengan kecanggihan teknologi. Meskipun sesungguhnya fasilitas yang mewah, lengkap dan mesin high-tech belum tentu digunakan seluruhnya secara maksimal namun ada kebanggaan bagi para penumpang untuk memilih moda transportasi seperti itu. Tak mengherankan bila ada pemahaman umum bahwa naik bus A berarti "orang berada" atau "keren" dan sebagainya, hanya karena bus A dikenal tak main-main dalam soal fasilitas, meski sesungguhnya tidak selalu seperti yang dipersepsikan oleh kebanyakan orang. Itulah citra.
Kembali lagi ke soal KRL dengan headlamp marcopolo tadi, saya kira sebenarnya perancangnya tidak sungguh-sungguh soal mendesain kereta ini agar tampil ciamik, dugaan saya ini lebih tepatnya sebuah kecelakaan desain. Hal ini sering dilakukan oleh bengkel mana saja kala anggaran perbaikan minim sedang tetap ingin tampil segar, karena model yang berkembang saat ini moncong kereta berbentuk bulat maka dikreasikanlah agar KRL ini punya kesan modern serta tidak kaku. Cuma, setelah diutak-atik ada kendala, desain kereta sejak awal memang sudah kaku, berbentuk kotak, lampunya juga hanya begitu-begitu saja, sulit membuatnya punya kesan bulat bila tidak merombak keseluruhan bodi. Hitung punya hitung, entah bagaimana, atau bisa saja karena yang bekerja di bengkel kereta api sebenarnya lebih suka naik bis maka diusulkanlah menggunakan lampu marcopolo. Selain hanya tinggal pasang, tidak perlu merubah bodi hanya ujungnya saja yang mengalami perombakan agar terlihat lebih bulat, kesan segar yang diinginkan bisa didapat. Maka inilah KRL Marcopolo.
Pertanyaannya kemudian, mau sampai kapan kereta api Indonesia berjalan seperti ini. Para penumpangnya sudah membayar dengan harga yang sangat wajar, namun dari tahun ke tahun pelayanannya dirasa terus berkurang, dari kondisi kereta, fasilitas hingga waktu tempuh yang ternyata tidak jauh beda dengan bus.
Semoga ada perbaikan lebih baik kedepannya
-------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini hanya "rehat" saja, dibentuk dengan opini pribadi.
Tak mengherankan bila desain kereta nasional secara umum (terutama KRL) tidak digarap secara serius, para pengelolanya pun tergolong tidak ambil pusing, toh semua penumpang kereta tak akan menolak untuk diberikan model interior/eksterior seperti apapun. Di beberapa kereta api jenis Eksekutif yang pernah saya gunakan, fasilitasnya malah kurang mumpuni dibanding harganya, sekalipun itu kereta api kelas argo.
Berbeda dengan para penumpang bus, mereka mulai kritis dengan apa yang ditawarkan tiap perusahaan. para operator pun kian kompetitif, yang berimbas pada kreatifitas karoseri dan hadirnya mesin-mesin baru dengan kecanggihan teknologi. Meskipun sesungguhnya fasilitas yang mewah, lengkap dan mesin high-tech belum tentu digunakan seluruhnya secara maksimal namun ada kebanggaan bagi para penumpang untuk memilih moda transportasi seperti itu. Tak mengherankan bila ada pemahaman umum bahwa naik bus A berarti "orang berada" atau "keren" dan sebagainya, hanya karena bus A dikenal tak main-main dalam soal fasilitas, meski sesungguhnya tidak selalu seperti yang dipersepsikan oleh kebanyakan orang. Itulah citra.
Kembali lagi ke soal KRL dengan headlamp marcopolo tadi, saya kira sebenarnya perancangnya tidak sungguh-sungguh soal mendesain kereta ini agar tampil ciamik, dugaan saya ini lebih tepatnya sebuah kecelakaan desain. Hal ini sering dilakukan oleh bengkel mana saja kala anggaran perbaikan minim sedang tetap ingin tampil segar, karena model yang berkembang saat ini moncong kereta berbentuk bulat maka dikreasikanlah agar KRL ini punya kesan modern serta tidak kaku. Cuma, setelah diutak-atik ada kendala, desain kereta sejak awal memang sudah kaku, berbentuk kotak, lampunya juga hanya begitu-begitu saja, sulit membuatnya punya kesan bulat bila tidak merombak keseluruhan bodi. Hitung punya hitung, entah bagaimana, atau bisa saja karena yang bekerja di bengkel kereta api sebenarnya lebih suka naik bis maka diusulkanlah menggunakan lampu marcopolo. Selain hanya tinggal pasang, tidak perlu merubah bodi hanya ujungnya saja yang mengalami perombakan agar terlihat lebih bulat, kesan segar yang diinginkan bisa didapat. Maka inilah KRL Marcopolo.
Pertanyaannya kemudian, mau sampai kapan kereta api Indonesia berjalan seperti ini. Para penumpangnya sudah membayar dengan harga yang sangat wajar, namun dari tahun ke tahun pelayanannya dirasa terus berkurang, dari kondisi kereta, fasilitas hingga waktu tempuh yang ternyata tidak jauh beda dengan bus.
Semoga ada perbaikan lebih baik kedepannya
-------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini hanya "rehat" saja, dibentuk dengan opini pribadi.